MASA
TA’ARUF
IKATAN
MAHASISWA MUHAMMADIYAH
KOMISARIAT
UNISDA
“BERSATU DALAM MENCIPTAKAN KARAKTER LEADER YANG PROGRESIF”
2014
|
KATA PENGANTAR
Assalamu
Alaikum Wr Wb
Puji syukur kita panjatkan atas
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita
semua sehingga penulis dapat menyajikan sebuah buku kecil pengantar Kader IMM.
Semoga buku ini mampu memberikan penyemangat baru untuk progresifitas IMM di
UNISDA untuk lebih actual dalam gerakanya.
Kami segenap pengurus IKATAN
MAHASISWA MUHAMMADIYAH UNISDA mengucapakan banyak terimakasi kepada seluruh
peserta dari UNISLA,STEKHAD DAN UNISDA sendiri yang sudah mau bergabung
bersama, berjuang di organisasi ini dan tak lupa pula kepada segenap jajaran
panitia yang berusaha keras untuk menghidupkan kemali ikatan ini lewat MASTA
pada sa’at ini semoga amal ibadah dan jeripayah imawan dan imawati dibalas
dengan hal yang lebih ole Allah.
Hidup IMM……….
Wassalamu Alaikum Wr Wb
PENDAHULUAN
Berbicara tentang pergerakan,
tentunya yang menjadi bahasan awal
adalah Mahasiswa yang dimana peran utamanya adalah sebagai agen of control, agen of cheng
dan agen of analisa yang bergerak atau berkumpul dalam sebuah wadah
organisasi yang di naungi oleh mahasiswa tersebut, sehingga perlunya seorang
mahasiswa adalah bagaimana dia harus mampu
beradaptasi atau ber-komunikasi atar sesama minimal mampu
mengekplorasikan diri sesuai dengan
kapasitas masing- masing.
Karena mau tidak mau selepas di bangku
kuliah pastinya kita di tuntut untuk mempertanggung jawabkan, tanggung
jawab Intlektual kita di kalangan masyarakat dan ini sudah menjadi
ketentuan sosial serta manjadi PR besar bagi kita sebagai manusia yang mau
berilmu ilmu amaliah amal ilmiah oleh
karena itu kita harus mempersiapkan segalah hal yang menjadi tantangan di hari
depan dan mampu memberikan prospek kedepan untuk bangsa Negara dan
khususya universitas kita. sehingga
nanti mendapatkan output yang baik dari
proses yang telah kita lalui.dan perlu di ketahui bahwasanya UNISDA kini adalah
sebagai barometer atau kiblat dari semua organisasi pergerakan yang ada di
lamongan, mulai dari (Pergerakan mahasiswa islam Indonesia) PMII. (Gerakan
Mahasiswa Nasional Indonesia GMNI) (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IMM) tiga
organisasi inilah yang masi tetap eksis sampai sekarang.
APA ITU MASTA?
Masa Ta’aruf (MASTA) adalah sebuah masa
orientasi mahasiswa baru yang telah dilaksanakan sejak tahun 2005 berbeda
dengan kebanyakan masa orientasi pada umumnya MASTA adalah perkenalan yang
ditujukan untuk mengenal tentang organisasi kampus dan juga organisasi Otonom
dari Muhammadiyah yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang biasa disingkat
(IMM).
Pengertian MASTA secara khusus adalah komponen
awal yang berfungsi untuk mengenalkan dan memasyarakatkan IMM, sekaligus
sebagai wahana rekruitmen anggota serta sebagai persiapan untuk memasuki
perkaderan Darul Arqam Dasar (DAD). Komponen pra perkaderan ini selanjutnya
disebut Masa Ta’aruf yang disingkat MASTA. Terget utama dari pelaksanaan MASTA
adalah rekruitmen anggota.
Dalam pelaksaan Masta
tidak ada unsur “perpeloncoan” yang berarti penyiksaan terhadap mahasiswa baru
karena seperti yang diketahui tujuan Masta hanyalah untuk memperkenalkan IMM. Masta
tahun 2014 ini sengaja di buat gabungan dengan Pk.IMM UNISDA,PK.UNISLA DAN
PK.IMM STIE ADE.Dengan harapan mampu menciptakan perubahan tersendiri dalam
ikatan. Masta Komsiariat tahun 2014 mengangkat tema “Bersatu menciptakan karakter leader yang progresif” yang artinya
dari awal perkenalan ikatan ini tumbuh motivasi memimpin berkarakter lewat
emosional atau Beyond the Ta’aruf’ yang
artinya lebih sekedar ta’aruf (perkenalan), maksud dari pengambilan tema ini ialah agar mahasiswa baru selain
dapat mengenal teman baru juga lebih mengenal tentang IMM dan Komisariat secara mendalam. Konsep Masta tahun ini
menggunakan konsep “mari bicara, mari bersosialisasi, tunjukan humanitas
leadermu ” dimana konsep tersebut pelaksanaanya adalah mengedepankan peserta yakni
mahasiswa baru untuk memunculkan humanitasnya dan mampu berani dalam
bersosialisasi sebagai mahasiswa baru.Seperti yang telah kita ketahui seiring
perkembangan zaman dan teknologi terutama alat komunikasi yang semakin canggih
membuat setiap orang lebih memilih dalam menggunakan alat komuniikasi atau
gadget dalam menjalin silaturahmi. Hal tersebut menimbulkan sifat yang terlalu
introvert, pasif dan cenderung kurang memahami bagaimana berinteraksi,
berkomunikasi dan bersosialisasi secara langsung terhadap orang lain. Begitupun
juga dalam membangun rasa humanitas dan kepedulian terhadap sesama yang semakin
berkurang. Menanggapi hal tersebut, Masa Ta’aruf kali ini dijadikan sebagai
ajang pembelajaran bagaimana masing-masing dari mahasiswa baru tersebut bersosialisasi
terhadap teman sebayanya dengan baik, bagaimana menyuarakan aspirasi atau
idenya masing-masing, kemudian mengajak mahasiswa baru untuk memiliki rasa
humanitas dengan berbagi terhadap sesama serta bisa memberikan sesuatu yang
bermanfaat dan dapat digunakan oleh orang lain. Hal yang tak kalah penting nya
dari pada itu, tujuan diadakannya Masa Ta’aruf kali ini adalah memperkenalkan
organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dengan cara yang baik sehingga
Mahasiswa Baru mampu mengenal dan memahami IMM dengan baik dan tanpa merasa
terdoktrin. Kami berharap setelah Masa Ta’aruf kali ini semua peserta bisa
mengaplikasikan segala macam bentuk kegiatan yang positif, pesan-pesan yang
positif dan membangun yang di dapat dari Masa Ta’aruf dan untuk menghadapi dunia
perkuliahan dan organisasi selanjutnya.
SEJARAH BERDIRINYA IMM (IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH)
Sejarah Berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah merupakan bagian dari AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) yang
merupakan organisasi otonom di bawah Muhammadiyah.
Sesungguhnya ada dua faktor integral yang melandasi kelahiran Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu faktor intem dan fakor ekstem. Faktor intem
dimaksudkan yaitu faktor yang terdapat didalam diri Muhammadiyah itu sendiri,
sedangkan fakor ekstern adalah faktor yang berawal dari luar Muhammadiyah,
khususnya umat Islam di Indonesia dan pada umumnya apa yang terjadi di
Indonesia.
Faktor intern, sebenarnya lebih
dominan dalam bentuk motivasi idealismse, yaitu motif untuk mengembangkan
ideologi Muhammadiyah, yaitu faham dan cita cita Muhammadiyah. Sebagaimana kita
ketahui bahwa Muhammadiyah pada hakekatnya adalah sebuah wadah organisasi yang
punya cita-cita atau tujuan yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam,
sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridloi oleh Allah
SWT. Hal ini termaktub dalam AD Muhammadiyah Bab II pasal 3. dan dalam
merefleksikan cita-citanya ini, Muhammadiyah mau tidak mau harus bersinggungan
dengan masyarakat bawah (jelata) atau masyarakat heterogen. Ada masyarakat
petani, pedagang, peternakan dan masyarakat padat karya dan ada masyarakat
administratif dan lain sebagainya yang juga termasuk didalamnya masyarakat
kampus atau intelektual yaitu Masyarakat Mahasiswa.
Persinggungan Muhammadiyah dalam
maksud dan tuiuannya, terutama terhadap masyarakat mahasiswa, secara teknisnya
bukan secara langsung terjun mendakwahi dan mempengaruhi mahasiswa yang berarti
orang-orang Mahasiswa, khususnya para mubalighnya yang langsung terjun ke
mahasiswa. Tapi dalam hal ini Muhammadiyah memakai teknis yang jitu yaitu
dengan menyediakan yang memungkinkan menarik animo atau simpati mahasiswa untuk
memakai fasilitas yang telah disiapkan.
Pada mulanya para mahasiswa yang
bergabung atau yang mengikuti jejak-jejak Muhammadiyah oleh Muhammadiyah
dianggapnya cukup bergabung dalam organisasi otonom yang ada dalam
Muhammadiyah, seperti Pemuda Muhammadiyah (PM) Yang diperuntukkan pada
mahasiswa dan Nasyi'atul Aisyiyah (NA) untuk mahasisiwi yang lahir pada 27
Dzulhijjah 1349 H dan Pemuda pada tanggal 25 Dzulhiijjah 1350 H.
Anggapan Muhammadiyah tersebut lahir
pada saat-saat Muhammadiyah bermuktamar ke-25 di Jakarta pada tahun 1936 Yang
pada saat itu dihembuskan pula cita-cita besar Muhammadiyah untuk mendirikan
Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan pada saat itu pula Pimpinan Pusat (PP)
Yang dipegang oleh KH. Hisyam (periode 1933-1937). Dan pada dikatakan bahwa
anggapan dan pemikiran mengenai perlunya menghimpun mahasiswa yang sehaluan
dengan Muhammadiyah yaitu sejak konggres ke-25 tersebut.
Namun demikian keinginan untuk menghimpun dan membina mahasiswa Muhammadiyah
pada saat itu masih vakum, karena pada waktu itu Muhammadiyah masih belum
memiliki Perguruan Tinggi seperti yang diinginkannya sehingga para mahasiswa
yang berada di Perguruan Tinggi lain baik negeri ataupun swasta yang sudah ada
pada waktu itu secara ideologi tetap berittiba' pada Muhammadiyah dalam kondisi
tetap mereka harus mau bergabung dengan PM, NA ataupun Hizbul Wathon (HW). Pada
perkembangan keberadaan mereka yang berada dalam ketiga organisasi otonom
tersebut merasa perlu adanya perkumpulan khusus mahasiswa yang secara khusus
anggotanya terdiri dari mahasiswa Islam. Alternatif yang mereka pilih yaitu
bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan ada image waktu itu yang
menyatakan bahwa HMI adalah anak Muhammadiyah yang diberi tugas khusus untuk
membawa mahasiswa dalam misi dan visi yang dimiliki oleh Muhammadiyah, karena
waktu itu ditubuh HMI sendiri dipegang oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah yang
secara aktif mengelola HMI.
Pada waktu itu Muhammadiyah secara kelembagaan turut mengelolai HMI baik dari segi moral ataupun material, sampai belakangan ini menurut data-data yang ada di PP Muhammadiyah menyatakan bahwa Muhammadiyah (terutama PTM dan RS Sosial) secara materiil turut membiayai hampir setiap aktifitas HMI baik mulai dari tingkat konggres sampai aktifitas sehari -hari. Disinilah sekali lagi bukan HMI yang turut menelorkan tokoh-tokoh Muhammadiyah tapi sebaliknya bahwa Muhammadiyah yang dulu ikut aktif membesarkan HMI. Mengapa hal itu dilakukan? Jawabannya seperti dikemukakan diatas, yaitu bahwa HMI diharapkan akan tetap konsisten dengan faham keagamaan yang diilhami oleh Muhammadiyah. Namun pada perkermbangannya dahulu mengalami perubahan-perubahan khususnya dalam independensi diinginkan oleh Muhammadiyah oleh Muhammadiyah lebih cenderung liberal dalam segala dalam segala aliran yang ada dalam teologi Islam boleh mewarnai tubuh HMI aliran-aliran Asy'ariyah (cenderung menghidupkan kembali sunnah-sunnah rosul), aliran syi'ah (yang cenderung mengkultuskan syaidina Ali bin Abi Tholib r.a), Mu'tazilah, nasionalisme, sekularisme, pluralisme lainnya. Sementara dalam Muhammadiyah tidaklah independensi Muhammadiyah ditekankan pada berpendapat namun masih dalam konteks wacana Islam masih tetap berideologi Al-quran dan As-sunnah dalam Muhammadiyah tidak mengenal madzab-madzab yang ada seperti madzab Syafi`i, Hambali dan Maliki.
Pada waktu itu Muhammadiyah secara kelembagaan turut mengelolai HMI baik dari segi moral ataupun material, sampai belakangan ini menurut data-data yang ada di PP Muhammadiyah menyatakan bahwa Muhammadiyah (terutama PTM dan RS Sosial) secara materiil turut membiayai hampir setiap aktifitas HMI baik mulai dari tingkat konggres sampai aktifitas sehari -hari. Disinilah sekali lagi bukan HMI yang turut menelorkan tokoh-tokoh Muhammadiyah tapi sebaliknya bahwa Muhammadiyah yang dulu ikut aktif membesarkan HMI. Mengapa hal itu dilakukan? Jawabannya seperti dikemukakan diatas, yaitu bahwa HMI diharapkan akan tetap konsisten dengan faham keagamaan yang diilhami oleh Muhammadiyah. Namun pada perkermbangannya dahulu mengalami perubahan-perubahan khususnya dalam independensi diinginkan oleh Muhammadiyah oleh Muhammadiyah lebih cenderung liberal dalam segala dalam segala aliran yang ada dalam teologi Islam boleh mewarnai tubuh HMI aliran-aliran Asy'ariyah (cenderung menghidupkan kembali sunnah-sunnah rosul), aliran syi'ah (yang cenderung mengkultuskan syaidina Ali bin Abi Tholib r.a), Mu'tazilah, nasionalisme, sekularisme, pluralisme lainnya. Sementara dalam Muhammadiyah tidaklah independensi Muhammadiyah ditekankan pada berpendapat namun masih dalam konteks wacana Islam masih tetap berideologi Al-quran dan As-sunnah dalam Muhammadiyah tidak mengenal madzab-madzab yang ada seperti madzab Syafi`i, Hambali dan Maliki.
Melihat fenomena diatas, HMI yang kian melesat kealam berideologi
tersebut maka dengan diplomasinya pihak PP Muhammadiyah mengeluarkan suatu
policy atau kebijakan yaitu menyelamatkan kader-kader Muhammadiyah yang masih
berada dijenjang pendidikan menengah atau Pendidikan Tinggi.Pada tanggal 18
Nopember 1955 keinginan Muhammadiyah untuk mendirikan PTM ini, PP Muhammadiyah
melalui struktur kepemimpinannya membentuk departemen pelajar dan mahasiswa
yang menampung aspirasi aktif dari para pelajar dan mahasiswa.Maka pada saat
Muktamar Pemuda Muhammadiyah pertama di Palembang tahun 1956 di dalam
keputusannya menetapkan langkah ke depan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956-1959
dan dalam langkah ini ditetapkan pula usaha untuk menghimpun pelajar dan
mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga
Muhammadiyah yang mampu mengemban amanah.
Untuk lebih merealisasikan usaha PP
Pemuda Muhammadiyah tersebut maka lewat KOPMA (Konferensi Pimpinan Daerah
Muhammadiyah) se-Indonesia pada tanggal 5 Shafar 1381/18 Juli 1962 di
Surakarta, memutuskan untuk mendirikan IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). PP
Pemuda Muhammadiyah pada saat KONPIDA ini masih belum berhasil melahirkan
organisasi khusus Mahasiswa Muhammadiyah. Pada saat itu nasib boleh duduk dalam
kepengurusan IPM.
Sehubungan dengan semakin berkembangnya PTM yang dirintis oleh Fakultas Hukum Dan Filsafat di Padang Panjang yang berdiri pada tanggal 18 Nofember 1955 namun karena peristiwa pemberontakan PRRI kedua fakultas tersebut vakum, kemudian berdiri di Jakarta PT Pendidikan guru yang kemudian berganti nama menjadi IKIP. Pada tahun 1958 dirintis fakultas serupa di Surakarta, di Yogyakarta berdiri akademi Tabligh Muhammadiyah dan di Jakarta berdiri pula FIS (Fakultas Ilmu Sosial) yang sekarang UMJ. Karena semakin berkembangnya PTM-PTM yang sudah ada maka pada tahun 1960-an ide-ide untuk menangani khusus mahasiswa Muhammadiyah semakin kuat.PP Pemuda Muhammadiyah yang oleh PP Muhammadiyah dan Muktamar ke-I di Palembang (1956) dibebani tugas untuk menampung aspirasi aktif para Mahasiswa Muhammadiyah, segera membentuk Study Group yang khusus Mahasiswa yang berasal dari Malang, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Padang, Ujung Pandang dan Jakarta. Menjelang Muktamar Muhammadiyah setengah abad di Jakarta tahun 1962 mengadakan kongres Mahasiswa Muhammadiyah di Yogyakarta dan dari kongres ini semakin santer upaya para tokoh Pemuda untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan untuk berdiri sendiri. Pada 15 Desember 1963 mulai diadakan pejajagan dengan didirikannya Dakwah mahasiswa yang dikoordinir oleh : Ir. Margono, Dr. Sudibjo Markoes dan Drs. Rosyad Saleh. Ide pembentukan ini berasal dari Drs. Moh. Djazman yang waktu itu sebagai Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah. Dan sementara itu desakan agar segera membentuk organisasi khusus mahasiswa dari berbagai kota seperti Jakarta dengan Nurwijo Sarjono MZ. Suherman, M. yasin, Sutrisno Muhdam, PP Pemuda Muhammadiyah dll-nya.
Sehubungan dengan semakin berkembangnya PTM yang dirintis oleh Fakultas Hukum Dan Filsafat di Padang Panjang yang berdiri pada tanggal 18 Nofember 1955 namun karena peristiwa pemberontakan PRRI kedua fakultas tersebut vakum, kemudian berdiri di Jakarta PT Pendidikan guru yang kemudian berganti nama menjadi IKIP. Pada tahun 1958 dirintis fakultas serupa di Surakarta, di Yogyakarta berdiri akademi Tabligh Muhammadiyah dan di Jakarta berdiri pula FIS (Fakultas Ilmu Sosial) yang sekarang UMJ. Karena semakin berkembangnya PTM-PTM yang sudah ada maka pada tahun 1960-an ide-ide untuk menangani khusus mahasiswa Muhammadiyah semakin kuat.PP Pemuda Muhammadiyah yang oleh PP Muhammadiyah dan Muktamar ke-I di Palembang (1956) dibebani tugas untuk menampung aspirasi aktif para Mahasiswa Muhammadiyah, segera membentuk Study Group yang khusus Mahasiswa yang berasal dari Malang, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Padang, Ujung Pandang dan Jakarta. Menjelang Muktamar Muhammadiyah setengah abad di Jakarta tahun 1962 mengadakan kongres Mahasiswa Muhammadiyah di Yogyakarta dan dari kongres ini semakin santer upaya para tokoh Pemuda untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan untuk berdiri sendiri. Pada 15 Desember 1963 mulai diadakan pejajagan dengan didirikannya Dakwah mahasiswa yang dikoordinir oleh : Ir. Margono, Dr. Sudibjo Markoes dan Drs. Rosyad Saleh. Ide pembentukan ini berasal dari Drs. Moh. Djazman yang waktu itu sebagai Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah. Dan sementara itu desakan agar segera membentuk organisasi khusus mahasiswa dari berbagai kota seperti Jakarta dengan Nurwijo Sarjono MZ. Suherman, M. yasin, Sutrisno Muhdam, PP Pemuda Muhammadiyah dll-nya.
Akhirnya dengan restu PP
Muhammadiyah waktu itu diketuai oleh H.A. Badawi, dengan penuh bijaksana dan
kearifan mendirikan organisasi yang khusus untuk Mahasiswa Muhammadiyah yang
diketuai oleh Drs. Moh. Djazman sebagai koordinator dengan anggota M. Husni
Thamrin, A. Rosyad Saleh, Soedibjo Markoes, Moh. Arief dll.
Jadi Pendiri Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah dan pencetus nama IMM adalah Drs. Moh. Djazman Al-kindi yang juga
merupakan koordinator dan sekaligus ketua pertama. Muktamar IMM yang pertama
pada 1-5 Mei 1965 di kota Barat, Solo dengan menghasilkan deklarasi yang
dibawah ini
- IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam
- Kepribadian Muhammadiyah adalah Landasan perjuangan IMM
- Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (sebagai stabilisator dan dinamisator).
- Ilmu adalah amaliah dan amal adalah Ilmiah IMM.
- IMM adalah organisasi yang syah-mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku.
- Amal IMM dilakukan dan dibaktikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.
Selanjutnya yang juga termasuk faktor intem dalam melahirkan IMM adanya motivasi etis dikalangan keluarga Muhammadiyah. Dalam upaya mewujudkan maksud dan tujuan Muhammadiyah baik yang berada di struktural ataupun diluar dan simpatisan, baik yang berekonomi atas, menengah ataupun bawah harus dapat memahami dan mengetahui Muhammadiyah secara general ataupun secara spesifik sehingga tidak muncul kader-kader Muhammadiyah yang radikal (berwawasan sempit). Penegasan motivasi etis ini sebenarnya merupakan interpretasi (pemahaman) dari firman Allah SWT. dalam QS. Al-Imran:104 dan diharapkan kader-kader Muhammadiyah yang khusunya IMM dapat merealisaasikan motivasi etis diantaranya dengan melakukan dakwah amar ma`ruf nahi munkar, Fastabiqul Khoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan & demi kebaikan).
Faktor Ekstern, yaitu sebagaimana yang tersebut diatas baik yang terjadi
ditubuh umat Islam sendiri ataupun yang terjadi dalam sejarah pergolakan bangsa
Indonesia, yang terjadi dimasyarakat Indonesia pada zaman dahulu hingga
sekarang adalah sama saja, yaitu kebanyakan mereka masih mengutamakan budaya
nenek moyang yang mencerminkan aktifitas sekritistik dan bahkan anemistik yang
bertolak belakang dengan ajaran Islam murni khususnya dan tidak lagi sesuai dengan
perkembangan zaman. Hal semacam ini memunculkan signitifitasi (bias) yang
begitu besar, utamanya pada kalangan mahasiswa Yang memiliki kebebasan akademik
dan Seharusnya memiliki pola pikir yang jauh, namun karena dampak budaya
masyarakat yang demikian membumi, mereka akan menjadi jumud dan mengalami
kemunduran.
Pergolakan OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) atau Organisasi Mahasiswa periode 50 sampai 65-'an terlihat menemui jalan buntu untuk mempertahankan indpendensi mereka dan partisipasi aktif dalam pasca Proklamasi (era kemerdekaan) RI. hal ini terlihat sejak pasca Konggres Mahasiswa Indonesia pada 8 Juli 1947 di Malang Jawa Timur, yang terdiri dari HMI, PMKRI, PMU, PMY, PMJ, PMKH, MMM, SMI, yang kemudian berfusi (bergabung) menjadi PPMI (Perserikatan Perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indonesia). PPMI pada mulanya tampak kompak dalam menggalang persatuan dan kesatuan diantara mahasiswa, namun sejak PPMI menerima anggota baru pada tahun 1958 yaitu CGMI yang berkiblat dan merupakan anak komunis akhirnya PPMI mengalami keretakan yang membawa kehancuran. PPMI secara resmi membubarkan diri pada Oktober 1965.
Pergolakan OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) atau Organisasi Mahasiswa periode 50 sampai 65-'an terlihat menemui jalan buntu untuk mempertahankan indpendensi mereka dan partisipasi aktif dalam pasca Proklamasi (era kemerdekaan) RI. hal ini terlihat sejak pasca Konggres Mahasiswa Indonesia pada 8 Juli 1947 di Malang Jawa Timur, yang terdiri dari HMI, PMKRI, PMU, PMY, PMJ, PMKH, MMM, SMI, yang kemudian berfusi (bergabung) menjadi PPMI (Perserikatan Perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indonesia). PPMI pada mulanya tampak kompak dalam menggalang persatuan dan kesatuan diantara mahasiswa, namun sejak PPMI menerima anggota baru pada tahun 1958 yaitu CGMI yang berkiblat dan merupakan anak komunis akhirnya PPMI mengalami keretakan yang membawa kehancuran. PPMI secara resmi membubarkan diri pada Oktober 1965.
Sebenamya PPMI sebelum membubarkan diri, sekitar tahun 1964-1965
masing-masing organisasi yang berfusi dalam PPMI itu saling berkompetisi dan
sok revolosioner untuk merebut pengaruh para penguasa waktu itu, termasuk juga
Bung Karno Yang tak luput dari incaran mereka. Hal ini diakibatkan karena
masuknya CGMI kedalam PPMI yang seakan mendapatkan legitimasi dari pihak
penguasa waktu itu sehingga CGMI (PKI) terlihat besar. HMI pun saat itu juga
merevolosionerkan diri menjadi sasaran CGMI (PKI), sehingga HMI hampir rapuh
akibat ulahnya sendiri, karena pada saat itu PKI merupakan partai terbesar dan
pendukungnya selalu meneriakkan supaya HMI dibubarkan. HMI melihat kondisinya
yang rawan tidak tinggal diam, dengan segala upaya untuk mengembangkan sayap
dan memperkokohnya, HMI kembali berusaha mendapatkan legitimasi kesana-kemari
untuk menangkal serangan dari PKI yang berusaha membubarkannya.
Pada saat HMI semakin terdesak itulah IMM lahir, yaitu pada tanggal 14
Maret 1964. Inilah sebabnya, ada stereotype atau persepsi yang muncul ke
permukaan bahwa IMM lahir sebagai penampung anggota-anggota HMI manakala HMI
dibubarkan oleh PKI maka IMM tidak perlu lahir. Namun persepsi yang terputar
itu tidak rasional dan kurang cerdas dalam menginterprestasi fakta dan data
sejarah.
Interprestasi Yang benar dan rasional sesuai dengan data dan fakta
sejarah adalah IMM salah satu faktor historisnya adalah untuk membantu
eksistensi HMI agar tidak mempan atas usaha-usaha yang akan membubarkannya.
Sekali lagi bahwa kelahiran IMM untuk membantu dan turut Serta mempertahankan
HMI dari usaha- usaha komunis yaitu PKI Yang akan membubarkannya dan sesuai
dengan sifat IMM itu sendiri yang akan selalu bekerjasama dan saling membantu
dengan saudaranya (saudaranya seaqidah Islam) dalam upaya beramar ma'ruf nahi
mungkar Yang merupakan prinsip perjuangan IMM.
Itulah sekilas kelahiran IMM yang
sampai sekarangpun masih ada oknum-oknum yang mempersoalkannya (walaupun sudah
terbit buku Yang menangkal isu tersebut dengan judul 'Kelahiran Yang
Dipersoalkan oleh Farid Fatoni). Dan sekarang kita telah tahu bahwa IMM lahir
memang merupakan suatu kebutuhan Muhammadiyah dalam mengembangkan sayap
dakwahnya dan sekaligus merupakan suatu aset bangsa untuk berpartisipasi aktif
dalam kemerdekaan ini.
Karena IMM merupakan suatu kebutuhan intern dan ekstern itu pulalah, maka tokoh-tokoh PP Pemuda Muhammadiyah yang berawal dari HMI kembali ke IMM sebagai anak atau ortom Muhammadiyah. Mereka yang dulu turut mengembangkan HMI disebabkan karena IMM belum lahir dan keterlibatan mereka dalam tubuh HMI hanya sebatas mengembangkan ldeologi Muhammadiayah. Dan sampai sekarangpun HMI masih dimasuki oleh kalangan mahasiswa dari berbagai unsur ormas Islam, yang pada akhimya berbeda dengan orientasi Muhammadiyah. Mungkin, untuk menangkal klaim seperti tersebut PP Pemuda Muhammadiyah diatas, adalah bahwa Para aktifis akan berdirinya IMM & NA Yang berusaha mengusahakan berdirinya IMM tidak terlibat dalam aktifitas HMI secara langsung maupun tidak langsung. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah benar-benar murni didirikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yang pada waktu itu diketuai oleh Bapak H.A. Badawi.
Karena IMM merupakan suatu kebutuhan intern dan ekstern itu pulalah, maka tokoh-tokoh PP Pemuda Muhammadiyah yang berawal dari HMI kembali ke IMM sebagai anak atau ortom Muhammadiyah. Mereka yang dulu turut mengembangkan HMI disebabkan karena IMM belum lahir dan keterlibatan mereka dalam tubuh HMI hanya sebatas mengembangkan ldeologi Muhammadiayah. Dan sampai sekarangpun HMI masih dimasuki oleh kalangan mahasiswa dari berbagai unsur ormas Islam, yang pada akhimya berbeda dengan orientasi Muhammadiyah. Mungkin, untuk menangkal klaim seperti tersebut PP Pemuda Muhammadiyah diatas, adalah bahwa Para aktifis akan berdirinya IMM & NA Yang berusaha mengusahakan berdirinya IMM tidak terlibat dalam aktifitas HMI secara langsung maupun tidak langsung. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah benar-benar murni didirikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yang pada waktu itu diketuai oleh Bapak H.A. Badawi.
SEJARAH PERKEMBANGAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
Setelah kita melacak sejarah
kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah (IMM) sekarang tibalah kita
membicarakan sejarah perkembangannya. Untuk maksud ini, dan agar lebih
sistematis dalam pengungkapannya, maka di bawah ini akan dibicarakan
perkembangan IMM dari Muktamar ke Muktamar Yakni Muktamar I, II, II, IV, V dst.
Muktamar IMM ke I
Muktamar Ikatan mahasiswa
Muhammadiyah (IMM) ke-1, lebih dikenal dalam sejarah IMM yaitu dengan
Musyawarah nasional (Munas). Untuk yang pertama kalinya setelah IMM resmi
disetujui oleh PP Muhammadiyah dan bahkan oleh Persiden RI ke-1 Bung karno, IMM
mengadakan mengadakan Musyawarah Nasional I yaitu pada tanggal 1-5 Mei 1965 di
Solo. Dalam Muktamar IMM ke-1 inilah yang telah menelorkan deklarasi Kota Barat
(Solo) 1965 dan komposisi Personalia Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah (IMM) yang isi deklarasi dan susunan personalianya termaktub di
landasan gerakan.
Satu hal yang patut dicatat, yaitu
pada saat deklarasi atau pada saat berlangsungnya Muktamar IMM ke-1 ini,
situasi bangsa dan ormas mahasiswa sedang dalam keadaan kurang tegap,
sempoyongan, gara-gara asap kota Madiun yang terberontak PKI sekitar tahun 1948
(setelah merdeka) sampai tahun 1965. pemberontajkan PKI ini terjadi di
mana-mana, yang kontan tercatat dalam sejarah bahwa Jawa Tengah termasuk basis
PKI. Tahun 1963-1965 merupakan era kejayaan PKI, dan pada saat-saat itulah IMM
bangkit yaitu di tengah-tengah era kejayaan PKI, dan pada pertengahan tahun
1965, atau tepatnya 1-5 Mei 1965, IMM mengadakan Muktamar I, sementara PKI pun
disetiap tempat sedang mengatur strategi untuk merebut kekuasaan RI yang
berpuncak pada tanggal 30 September 1965 yang kini dikenal dengan gerakan 30
September (G 30 S PKI) yang telah melakukan penculikan kepada 7 orang jendral.
Secara historis, kehadiran Munas (Musyawarah Nasional ) IMM ke-1 merupakan
langkah politis yang tepat untuk menanamkan semangat juang mempertahankan
kemerdekaan RI sekaligus menambah kekuatan ormas-ormas Mahasiswa termasuk HMI.
Secara historis-politis pula, pada
saat kelahiran IMM tahun 1964, kelahiran IMM antara lain dalam tinjauan politis
ini, yaitu bertujuan untuk memperkuat barisan MMI (Majelis Mahasiswa Indonesia)
yang lahir pada tahun 1962 dimana Drs. Lukman Harun sebagai wakil sekjennya.
Tetapi pada kongres MMI tahun 1964, yang semula diniatkan tetap mampu
menguatkan ormas mahasiswa ternyata gagal. PKI dalam hal ini nampaknya masih
kuat dan kelahiran MMI ini belum mampu mengimbangi kekuatan PKI akhirnya dengan
penuh dialektika organisatoris yang tidak terlepas dari niatan baik untuk
menghadang gerakan PKI bubarnya MMI tidak memudarkan niat mendirikan IMM dan
kelahiran IMM tetap melangkah mantap.
Masih dalam situasi menjelang Munas I IMM, sekitar bulan Januari tahun 1965 tepatnya pada tanggal 13 Januari 1965, antek-antek PKI telah melakukan penyerangan terhadap PII (Pelajar Islam Indonesia) yang pada waktu itu tengah melangsungkan Mentara (mental training) di sebuah desa Kanigoro (Jawa timur). Dengan serbuan yang ganas terhadap acara Mentra PII di arena mesjid jami’ yakni pada saat peserta melaksanakan kuliah subuh. PKI datang bersenjata dan merusak segala yang ada di sekelilingnya kemudian peristiwa ini tersiar dan mengusik keimanan kaum muslimin. Pada tanggal 1 Februari 1965 umat Islam di Jawa Timur mulai melakukan aksi. Di Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI dan daerah sekitarnya juga turut melaksanakan aksi protes terhadap prilaku PKI. IMM sebagai organisasi yang baru lahir segera ambil bagian dalam gerakan-gerakan aksi dengan meneriakkan jargon “ganyang PKI”.
Para pemimpin IMM hasil Munas I yang diamanati untuk memimpin IMM periode 1965-1968, dalam melaksanakan program kerjanya senantiasa harus berhadapan dengan CGMI (Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia). Ikatan pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), Pemuda Rakyat dan lain-lain yang termasuk organ PKI. Organ-organ PKI yang senantiasa mengganggu aktivitas ormas pemuda dan mahasiswa Islam termasuk IMM, selalu meneriakan yel-yel “bubarkan HMI” dan lain-lain. Hal ini sesungguhnya tidak memudarkan gerakan IMM. Pemuda Muhammadiyah secara organisatoris sebagai kakak kandung IMM senentiasa menggandeng IMM untuk maju ke medan penggayangan PKI untuk mempertahankan HMI dan bangsa yang berlandaskan Pancasila serta berusaha mendekati BungKarno yang semakinterdesak dibujukdan difitnah PKI.
Pada hari Kamis, 30 September 1965 –yang pada malam harinya terjadi pemberontakan G30 S PKI kira-kira jam 20.00an—para anggota dan pimpinan IMM yang berada di Jakarta turut mendengarkan ceramah yang dibawakan oleh Kasad Jendral TNI A.H. Nasution di depan peserta Latihan kader Pemuda Muhammadiyah Jakarta yang bertempat di kompol UMJ Jl. Limau Jakarta Selatan (kini menjadi kampus UHAMKA). Kemudian pagi harinya, setelah terdengar berita adanya penculikan 7 jendral (termasuk Pak Nasution yang alhamdulillah lolos) atau G 30 S PKI, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang juga telah bergabung dengan GENUIS dan telah melakukan aksi membela HMI pada tanggal 11 September 1965 dan 13 September 1965, secara cepat melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh Pemuda Muhammadiyah atas anjuran PP Muhammadiyah yang ada di Jakarta kemudian berkumpul di tempat yang sama. Drs. Lukman Harun yang pada waktu itu menjadi ketua PP Pemuda Muhammadiyah memberi briefing, begitu pula HS projokusumo, Sutrisno Muhdam, Suwardi, Sam’ani, Sumarsono, Djalal Sayuti, Drs. Habian HS, H. Suyitno, mereka inilah yang kemudian mengadakan rapat tertutup di ruang Rektor Universitas Muhammadiyah yang kemudian salah satu hasilnya adalah membentuk KOKAM (Komando Kewaspadaan dan Kesiapasiagaan Muhammadiyah), Sumarsono dan Sutrisno Muhdam adalah anggota DPP IMM.
Masih dalam situasi menjelang Munas I IMM, sekitar bulan Januari tahun 1965 tepatnya pada tanggal 13 Januari 1965, antek-antek PKI telah melakukan penyerangan terhadap PII (Pelajar Islam Indonesia) yang pada waktu itu tengah melangsungkan Mentara (mental training) di sebuah desa Kanigoro (Jawa timur). Dengan serbuan yang ganas terhadap acara Mentra PII di arena mesjid jami’ yakni pada saat peserta melaksanakan kuliah subuh. PKI datang bersenjata dan merusak segala yang ada di sekelilingnya kemudian peristiwa ini tersiar dan mengusik keimanan kaum muslimin. Pada tanggal 1 Februari 1965 umat Islam di Jawa Timur mulai melakukan aksi. Di Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI dan daerah sekitarnya juga turut melaksanakan aksi protes terhadap prilaku PKI. IMM sebagai organisasi yang baru lahir segera ambil bagian dalam gerakan-gerakan aksi dengan meneriakkan jargon “ganyang PKI”.
Para pemimpin IMM hasil Munas I yang diamanati untuk memimpin IMM periode 1965-1968, dalam melaksanakan program kerjanya senantiasa harus berhadapan dengan CGMI (Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia). Ikatan pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), Pemuda Rakyat dan lain-lain yang termasuk organ PKI. Organ-organ PKI yang senantiasa mengganggu aktivitas ormas pemuda dan mahasiswa Islam termasuk IMM, selalu meneriakan yel-yel “bubarkan HMI” dan lain-lain. Hal ini sesungguhnya tidak memudarkan gerakan IMM. Pemuda Muhammadiyah secara organisatoris sebagai kakak kandung IMM senentiasa menggandeng IMM untuk maju ke medan penggayangan PKI untuk mempertahankan HMI dan bangsa yang berlandaskan Pancasila serta berusaha mendekati BungKarno yang semakinterdesak dibujukdan difitnah PKI.
Pada hari Kamis, 30 September 1965 –yang pada malam harinya terjadi pemberontakan G30 S PKI kira-kira jam 20.00an—para anggota dan pimpinan IMM yang berada di Jakarta turut mendengarkan ceramah yang dibawakan oleh Kasad Jendral TNI A.H. Nasution di depan peserta Latihan kader Pemuda Muhammadiyah Jakarta yang bertempat di kompol UMJ Jl. Limau Jakarta Selatan (kini menjadi kampus UHAMKA). Kemudian pagi harinya, setelah terdengar berita adanya penculikan 7 jendral (termasuk Pak Nasution yang alhamdulillah lolos) atau G 30 S PKI, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang juga telah bergabung dengan GENUIS dan telah melakukan aksi membela HMI pada tanggal 11 September 1965 dan 13 September 1965, secara cepat melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh Pemuda Muhammadiyah atas anjuran PP Muhammadiyah yang ada di Jakarta kemudian berkumpul di tempat yang sama. Drs. Lukman Harun yang pada waktu itu menjadi ketua PP Pemuda Muhammadiyah memberi briefing, begitu pula HS projokusumo, Sutrisno Muhdam, Suwardi, Sam’ani, Sumarsono, Djalal Sayuti, Drs. Habian HS, H. Suyitno, mereka inilah yang kemudian mengadakan rapat tertutup di ruang Rektor Universitas Muhammadiyah yang kemudian salah satu hasilnya adalah membentuk KOKAM (Komando Kewaspadaan dan Kesiapasiagaan Muhammadiyah), Sumarsono dan Sutrisno Muhdam adalah anggota DPP IMM.
Dalam KOKAM itulah IMM berperan
penting, sebagai ortom Muhammadiyah yang beranggotakan para mahasiswa militan
senantiasa bergerak dan menggerakan aksi-aksi protes menentang PKI, menuntut
pembubaran PKI. Dan melalui KOKAM ini pulalah IMM bisa bekerja sama dengan unsur
TNI dan ABRI yang anti PKI.
Pada hari senin 4 Oktober 1965
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) turut ambil bagian dalam pembentukan KAP
GESTAPU (Kesatuan Aksi Penggayangan Kontra Revolusi G. 30 S. PKI), yang
kemudian bergabung pula dengan aksi-aksi lain, KAMI (KesatuanAksi Mahasiswa
Indonesia), KAPPI ( Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia) IMM pun turut
ambil bagian Immawan Saiful Alam termasuk penandatanganan Kebulatan Tekad yang
intinya antara lain: “Mengutuk sekeras-kerasnya terhadap tindakan teror dan
penculikan para jendral. Mendesak Bung Karno selaku presiden untuk membubarkan
PKI dan antek-anteknya dan ormas-ormas yang simpati terhadap G. 30 S PKI…”
Muktamar IMM IV
Amanah muktamar IMM III di
Yogyakarta yang berlangsung pada tanggal 14-17 Maret 1971 di Yogyakarta bahwa
muktamar IMM ke IV akan dilaksanakan di Medan atau Jakarta. Sebelumnya telah
diputuskan oleh Tanwir IV yaitu Medan (SUMUT). Kemudian karna pertimbangan
integrasi sesama AMM cq Pemuda Muhammadiyah maka DPP IMM memutuskan untuk memindahkan
tempat Muktamar dari Medan - Malang (JATIM).Akan tetapi setelah berembug dengan
PP Pemuda Muhammadiyah dan OC Muktamar akhirnya diputuskan tempat Muktamar IMM
IV yaitu di Semarang( Jateng ) pada Tanggal 18-22 Djulhijjah 1395 H/21-2
Desember1975 M berbarengan dengan
Muktamar Pemuda Muhammadiyah Ke-6.
Dalam Muktamar IV tersebut disamping
menyusun personalia DPP IMM Periode 1975-1978 yang diketuai oleh Drs. Zulkibar
dan M. Alfian Darmawan (Sekretaris Jenderal) juga telah menelorkan deklarasi
yang didalam perkembangan sejarah IMM mengalahkan popularitas DPP IMM selakigus
menggusur program produk Muktamar yang ditanfizkan dengan SK No.002/A-1/76 tgl
8 Syafar 1396 H./8 Pebruari 1976.
Deklarasi Masjid Raya Baiturrahman
Semarang ditandatangani oleh 36 orang, 17 orang generasi awal dan 19 orang
generasi penerus. Ke-17 orang generasi awal tersebut Yaitu: Drs. H Moh.Djazman,
dr.Sudibyo MarkusDrs. H Rosyad Saleh, dr Moh Arief, Drs. Syamsu udaya Nurdin,
Drs. Zulkabir, Drs. H. Sutrisno Muhdam, H. Nurwijoyo Sarjono, Drs Basri Tambuh,
Drs. Fathurrahman HM. Sumarwan, Bsw, Ali Kyai Demak, SH, Drs. M. Husni Tamrin,
M. Susanto BA, Dra. Siti Romlah, dan dr. Deddy Abubakar. Sedangkan ke 19
generasi Penerus yaitu wakil-wakil DPD IMM Se- Indonesia yang nengikuti
Muktamar IMM IV tersebut, yang berarti secara otomatis deklarasi tersebut
merupakan tekad Pimpinan dan anggota IMM seluruh Indonesia. Mereka itu adalah:
Hindun Rosidi ( Aceh ), M. Jaginduang dalimunthe ( Sumut ) Agus Aman ( Riau )
Bazar Abas ( Sumbar ) A.Roni Umar ( Jambi ) Fauzi Fatah ( Lampung ) Rafles (
DKI Jakarta) Anda Suahanda ( Bandung/Jawa Barat )Ahmad Sukarjo ( Jateng ) Tufik
Dahlan ( DIY Yogjakarta) Ishak Soleh ( Kalbar / Pontianak ) Mahrani Said (
Kalsel )M. Nurdin HS.(Samarinda/ Kaltim) M.Yasin Ahmad ( Suselra/Ujung Pandang)
M.Yunus Hamid( Sulteng) M.NurAbdullah ( NTB / NTP ) Joko Santoso ( Malang /Jawa
Timur ) A. Muiz ZA ( DPP IMM Periode 1971-1974 ) dan Mahnun Husein ( DPP IMM
1971-1974).
Dewan Pimpina Pusat Ikatan Mahasiswa
Muahmadiyah Periode Muktamar IV atau periode 1975-1978) dalam pelaksanaan
program hasil Muktamar yang telah ditanfizkannya melalui surat keputusan
No.002/A-1/1976 8 Februari 1976. Kurang banyak melakukan suatu aktifitas
tingkata nasional. Namun, satu inforamsi yang bias dipercaya, bahwa DPP IMM
Periode 1975-1978 telah mengusulkan kepada pemrintah RI dalam melakukan
pembibitan bagi generasi muda dan mahasiswa diperlukan adanya seorang pembantu
Presiden yakni seorang menteri yang bertugas menangani kepemudaan, yang
akhirnya lahirlah dalam komposisi Kabinet Pembangunan III dr. Abdul Gafur
sebagai Menpora dan Ir. Akbar Tanjung untuk Kabinet Pembangunan IV (1988-1993)
konon, kehadiran meneteri pemuda ini salahsatunya adalah merupakan usulan DPP
IMM periode 1975-1978 yang diketuai oleh Drs. Zulkabir.
Kemudian, kaitannya dengan
pengembangan ikatan pada dan atau lewat Muktamar IMM IV di Semarang tersebut,
telah merekomendir penggeseran azas pengorganisasian IMM dari azas teritorial
kepada azas potensial. Penggeseran ini menurut pola katifitas ikatan
dimaksudkan supaya IMM senantiasa berorientasi kepada bidang-bidang gerak
Muhammadiyah. Dan kebutuhan dasar mahasiswa. Kalau sekarang kita mempunyai
keyakinan penuh bahwa komisariat adalah sebagai institusi terbawah dalam
jenjang kepemimpinan ikatan, adalah merupakan basis kegiatan, maka dengan
penggeseran azas tersebut berarti posisi komisariat dan atau kelompok dipandang
penting dan menentukan. Program yang seperti ini sesungguhnya merupakan hasil
rumusan Muktamar IMM IV tersebut. Dan dengan ini memang terjadilah upaya
perluasan IMM melalui rekomendasinya kepada PP Muhammadiyah.
Atas dasar rekomendasi dari Muktamar
IV IMM kepada Muhammadiyah kaitannya dengan pengembangan IMM tersebut, maka
Muhammadiyah dalam hal ini Majelis Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan
(sekarang majelis ini dipecah menjadi dua; Majelis Diktilitbang dan Majelis
Pendidikan dan Kebudayaan) telah mengeluarkan petunjuk mengenai pembinaan
mahasiswa perguruan tinggi Muhammadiyah yang juga merupakan rekomendasi dari
hasil lokakarya yaitu dengan suratnya nomor: E.1/234/1978 tertanggal 31 Oktober
1978 nomor: E.1/001/79 tanggal 2 Januari 1979 dan nomor E.3/014/1979 tertanggal
6 Januari 1979.
Selain itu, DPP IMM periode Zulkabir, yang sebenarnya harus berakhir pada tahun 1978 atau akhir tahun 1979 (paling lambat), ternyata masih merasa kurang cukup waktu dalam melaksanakan amanah hasil Mukatamar IMM III dan IV. Tahun 1979, bukannya Mukatamar IMM V yang diadakan, tetapi justeru tentang Tanwir V yang diadakan di Jakarta, yang salah satu keputusannya akan bermuktamar pada bulan Oktober 1979. dan Tanwir V inipun sesungguhnya merupakan desakan dari DPD IMM DKI Jakarta yang saat itu di Ketua Umumi Drs. M. Yunan Yusuf. Dan dalam Tanwir IMM V di Jakarta tahun 1979 inipun terdapat rekomendasi untuk Muhammadiyah dan untuk DPP itu sendiri supaya segera melaksanakan Mukatamr IMM V.
Sampai beberapa tahun kemudian DPP IMM periode 1975-1978 tidak mampu mengadakan Muktamar lanjutan (ke-5). Personalia DPP IMM periode ini yang terpencar-pencar, ada yang di Yogya, Solo, Bandung dan Jakarta, dan lain-lain mengakibatkan komunikasi antar anggota DPP menjadi renggang bahkan terputus. Yang pada gilirannya terjadilah kevakuman IMM ditingkat nasional. DPD IMM DKI Jakarta pada tanggal 14-15 Maret 1981 mengadakan Musyda V dan dalam Musyda inilah disuarakan bahkan mendesak supaya DPP IMM periode 1975-1978 segera melaksanakan amanah Muktamar.
Selain itu, DPP IMM periode Zulkabir, yang sebenarnya harus berakhir pada tahun 1978 atau akhir tahun 1979 (paling lambat), ternyata masih merasa kurang cukup waktu dalam melaksanakan amanah hasil Mukatamar IMM III dan IV. Tahun 1979, bukannya Mukatamar IMM V yang diadakan, tetapi justeru tentang Tanwir V yang diadakan di Jakarta, yang salah satu keputusannya akan bermuktamar pada bulan Oktober 1979. dan Tanwir V inipun sesungguhnya merupakan desakan dari DPD IMM DKI Jakarta yang saat itu di Ketua Umumi Drs. M. Yunan Yusuf. Dan dalam Tanwir IMM V di Jakarta tahun 1979 inipun terdapat rekomendasi untuk Muhammadiyah dan untuk DPP itu sendiri supaya segera melaksanakan Mukatamr IMM V.
Sampai beberapa tahun kemudian DPP IMM periode 1975-1978 tidak mampu mengadakan Muktamar lanjutan (ke-5). Personalia DPP IMM periode ini yang terpencar-pencar, ada yang di Yogya, Solo, Bandung dan Jakarta, dan lain-lain mengakibatkan komunikasi antar anggota DPP menjadi renggang bahkan terputus. Yang pada gilirannya terjadilah kevakuman IMM ditingkat nasional. DPD IMM DKI Jakarta pada tanggal 14-15 Maret 1981 mengadakan Musyda V dan dalam Musyda inilah disuarakan bahkan mendesak supaya DPP IMM periode 1975-1978 segera melaksanakan amanah Muktamar.
DPP IMM nampaknya kurang mendengar
suara Musyda IMM DKI Jaya tersebut, maka, pada tanggal 3 Juni 1982 para alumni
IMM DKI Jaya, Drs. H. Rustan SA, M. Rusaini Rusin, SH, Drs. E. Kusnadi,
Sudirman Arif, Drs. Husni Thoyar, Drs. Hadjid Dharnawidagda, MP, Drs. Yudi
Ruspandi, Drs. A. Sabuki, Drs. Abdul Muis, ZA, Drs. H. M. Yusuf Muchtar, Drs.
Salman Harun (sekarang Doktor), Drs. Sadimin, Drs. M. Yunan Yusuf, Drs. Muh.
Isa Anwari Bah, dan Firdaus Jamain, telah menandatangani surat himbauan kepada
PP. Muhammadiyah supaya turun tangan dan segera melaksanakan Muktamar IMM V,
dan surat ini ditembuskan kepada seluruh PWM seluruh Indonesia, tetapi juga…Muktamar
masih tetap belum dilaksanakan. Tahun 1984 DPD IMM DKI Jakarta memprakarsai
untuk membentuk karakteker DPP IMM, yang tujuannya akan mengantarkan IMM untuk
segera melaksanakan Mukatamar, tetapi karakteker ini banyak tentangan akhirnya
bubar sendiri.
Kembali pada permasalahan bahwa,
penilaian yang objektif sesungguhnya DPP IMM sejak periode 1975-1978/1979
terjadilah kekosongan, atau sejak itulah IMM tidak mempunyai DPP IMMnya. IMM
yang pada periode Drs. HM. Djasman dan Drs. HA. Rosyad Soleh, memiliki potensi
nasional yang meyakinkan, ternyata hampir tenggelam gara-gara ketiadaan DPP IMM
sejak tahun 1979 tersebut. Namun demikian, kekosongan DPP IMM sesungguhnya sma
sekali tidak mempengaruhi aktivitas IMM di setiap daerah dan cabang, walaupun
DPP IMM tidak ada. Tetapi anggota IMM tidak ambil pusing. Identitas IMM
ternyata begitu melekat pada IMM, di daerah-daerah dan cabang-cabang, IMM masih
tetap tumbuh bahkan semakin subur. IMM saat ini ibarat sebuah pohon besar yang
rindang kemudian terserang kemarau panjang yang menggugurkan dedaunannya tetapi
akarnya semakin menerobos ke perut bumi. Atasnya rontok, tetapi bawahnya semakin
mantap, itulah IMM saat itu.
Kondisi DPP IMM yang banyak memendam
cerita nyata tersebut, lama kelamaan terdengar pula oleh PP Muhammadiyah, satu
hal yang amat menguntungkan bagi IMM, yaitu bahwa anggota-anggota Pimpinan
Pusat saat itu banyak mantan DPP IMM seperti Drs. Muh. Djasman, Drs. Sutrisno
Muhdam, Drs. A. Rosyad Saleh, Drs. Abu Sri Dimyati, dll. Sementara itu, Bapak
HS. Prodjokusumo sendiri selaku Ketua PP Muhammadiyah Mapendappu saat itu
merasa terpanggil yang akhirnya keluarlah animo beliau untuk menulis tentang
IMM yang nadanya hampir menjerit dengan judul “IMM Anakku, Bangkitlah”! yang
kemudian tulisan ini disamping dimuat di suara Muhammadiyah nomor. 12 tahun
ke-63 Juni 1983 juga disebarluaskan oleh BKP-AMM dalam bentuk buku diterbitkan
pada tahun 1983. Dengan demikian, maka akhirnya PP Muhammadiyah yang merasa
telah mengesahkan berdirinya IMM dan merasa bahwa IMM adlah anak kandungnya,
segera turun tangan, turut campur kedalam pembenahan IMM dalam hal in DPPnya.
SEJARAH BERDIRINYA IMM LAMONGAN
pada bulan Oktober
tahun 1979 telah berdiri fakultas syariah lamongan universitas muhammadiyah
Malang yang bertempat di pondok pesantren karang asem Muhammadiyah paciran
kabupaten lamongan. Yang pada saat itu tempat yang dijadikan aktivitas
perkuliahan adalah di komplek ponpes karang asem paciran tepatnya di sebelah
utara masjid al manar pondok pesantren karang asem Muhammadiyah paciran, yang
sekarang di gunakan untuk lembaga taman
pendidikan kanak – kanak Bustanul Atfal (TK ABA) yang menjadi dekan fakultas syari’ah
pada tahun 1979 sampai tahun 1991 dipegang lansung oleh KH.Abdurahman Syamsuri
yang dikenal dengan sebutan YI MAN. YI
Man atau KH.Abdur Rahman syamsuri Adalah salah satu Tokoh Muhammadiyah
kabupaten lamongan yang pernah menjabat sebagai ketua Pimpinan Daerah
Muhammadiyah kabupaten lamongan Masa priode 1977-1986, disamping itu beliau
juga adalah pendiri pondok Pesantren Karang asem paciran Pada tahun 1948.
Berawal dengan adanya
fakultas syari’ah tersebut yang ada di pondok pesantren karangasem paciran
dekan fakultas tersbut menberikan inspirasi yang baik dan medalam kepada
mahasiswa. Untuk kretif dalam bidang
akademik.agama, organisasi.dan bidang yang lain
Di tinjau dari segi
historis Daerah pantura terutama daerah paciran Kecamatan paciran ialah daerah
yang sudah lama mengenal dan sekaligus merupakan orgnisasi. Dengan berangakat
dari latar belakang organisasi tersebut yang telah digelutin
disaat belajar di tingkat menengah awal diatas, Timbulah keinginan –
keinginan untuk dapat mendirikan organisasi ditingkat kemahasiswaan
Pada tahun 1985 berawal
dari pemikiran Kasmono, salah seorang mahasiswa Fakultas syari’ah Universitas
Muhammadiyah Malang di Lamongan yang bertempat tinggal di Pondok pesantren
karangasem Paciran, yang pada saat itu
pula menjabat sebagai wakil sekertaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah
Kabupaten lamongan. Berdirilah PC.IMM Lamongan yang bertempat di komplek pondok
pesantren karang asem paciran.
Kasmono berangkat dari pemikiranya tentang
organisasi yang di geluti yaitu adanya organisasi Muhammadiyah beserta ortomnya
yang ada di semua golongan (Muhammadiyah, Aisyiah, pemuda, Nasiatul Aisyiah,
IPM/IRM) di kaupaten lamongan. Tetapi di kampus atau komunitas mahasiswa belum
adanya organisasi kemahasiswaan yang berada dinaungan muhammadiyah Di Kabupaten
Lamongan.
Latar belakang yang
lain adalah pada saat itu mahasiswa membutuhkan wahana atau kumpulan –kumpulan
(organisasi) yang ada di komunitas mahasiswa. Untuk melanjutkan dan
mengembangakan bakat keorgaisasian yang telah dibawasejak lembaga pendidikan
sebelumnya, di sampan itu untuk mengembangkan kreativitas mahsiswa di kalangan
kampus.
SEJARAH
KOMISARIAT IMM SUKODADI
Masa
perintis,Kevakuman,Kebangkitan dan Pengembangan
A. Masa perintis 2003 -2005
Komisariat IMM sukodadi Lamongan atau
bisa dikatakan komisariat IMM UNISDA. Sebenarnya puluhan tahun yang lalu sudah
Nampak embrio –embrio sebagai bibit berdirinya komisariat IMM UNISDA. Hal ini
sebagaimana yang telah di tuturkan oleh Ady Sucipto ja’iz (Mantan ketua umum )
musycab IMM ke tiga.
Ady sucipto ja’iz saat
menjabat sebagai ketua umum IMM Cabang Lamongan. Sudah melakukan pendekatan
–pendekatan meski pada saat itu baru perindividual saja. Dn pendekatan tersebut
dapat direalisasikan. Di sebabkan berakhirnya masa priode Ady Sucipto ja’iz
belum sempat mendirikan komisariat IMM UNISDA. Adiy sucipto juga menegaskan ada
bibit-bibit Mahasiswa Muhammadiyah yang kuliah di UNISDA, dapat di jadikan
momentum berharga untuk mendirikan IMM komisariat dan juga menunjukan kiprah
mahasiswa Muhammadiyah dalam berorganisasi di tengah – tengah kampus Non
Muhammadiayah.
Akhirnya selama kurun
waktu 13 tahun IMM komisariat UNISDA atau sukodadi dapatlah didirikan, tepatnya
pada tahun 2006 di gedung serba guna sukodadi. Berdirinya IMM di UNISDA yang
kemudian di atas Namakan komisariat sukodadi berawal dengan banyaknya mahasiswa
Muhammadiyah yang kuliah di UNISDA melakukan musyawarah-musyawarah untuk
membuat wadah tersendiri bagi mahasiswa muhammadiyah. Hal ini juga tidak
terlepas peran IMM cabang lamongan periode 2004-2006 yang sebagai fasilitator
informasi dan sebagai mobolisator berdirinya IMM komisariat Sukodadi.
Personalia pengurus
yang di hasilkan dari musyawarah komisariat 1 di gedung serba guna Sukodadi
tahun 2006-2008 yakni, fastabiqul khoirot (ketua umum), sukomto (Sekertaris
umum), Khusnul khotimah (Bendhara umum), Saiful mukhlis (wakil bendhara ), Edy
kokoh (kabid organisasi), Budi harsyah (kabid kader), Mubarok AZ (kabid
hikmah), Arik Rodhiyah Rahmah (Kabid imawati), Bagus cahyono.dan masi banyak
personalia pengurus komisariat IMM Sukodadi priode 2006-2007 atau bertepatan
pada musykom ke 1 (pertama ) mulai merambah kedunia dalam kampus meskipun belum
mampu berkembang pesat. Meskipun demikian IMM sudah mampu meberikan sebuah
dinamika dalam kampus yang amat menarik. Akan tetapi karana masa kepemimpinan
dalam IMM hanya 1 tahun priode kakanda
fastabikul khirot belum bisa memberikan wadah kader yang banyak akan tetapi
mampu memberiakn embrio baru.
C.Masa kefakuman
Setelah masa priode Fstabikul khoirot
muscom ke 2 dua di gantiakan oleh Arip hidayat dari latuaan karanggeneng
jurusan matimatika pada priode ke dua ini tahun priode 2008-2011 mengalami
kevakuman karana tidak adanya estavet keorganisasian. Di samping tidak adanya
kaderisasi, juga IMM pada saat itu belum banyak dikenal oleh kalangan mahasiswa
dan belum tersosialisasinya tentang keberadaan IMM di kampus .
Hingga pada tahun itu
IMM komisariat UNISDA mati dalam pandangan mahasiswa secara khusus dan
pandangan secara pada era tersebut interprestasi ini di sebabakan karena
berbagai sebab kevakuman di atas factor kefakuman yang terpenting adalah karena
pada saat itu rata –rata pengurus harian sibuk dengan urusan pekerjaanya dan
terbentur oleh waktu antara organisasi dan pekerjaan sehingga roda organisasi
tidak bisa berjalan focus.dan ber estafet
B.Masa kebangkitan
PC IMM Lamonagan merasa bertanggung jawab atas kevakuman
PK IMM Sukodadi/unisda tersebut. Kemudian PC IMM Lamongan bergerak mengatasi
masalah tersebut dengan mengumpulkan kader-keder terbaiknya yang masi kuliah di
unisda yang juga aktif menjabat BPH PC IMM lamongan seperti, retno ayu
wilujeng, azam bukhori, ainul agustian.sigit andi irawan untuk mencari kader
baru. Pada tahun 2010 akhirnya bisa melakukan DAD pertama setelah kevakuman
tersebut, meskipun masi ikut di komisariat lain yaitu di PK IMM STIT_STIE
muhammadiyah paciran. Yaitu mengirim 3 kader dari PK IMM sukodadi yaitu M ghofururrohim,
zon beby syaifullah dan masrul mhajir. Kemudian mengirim 1 kadernya di DAD di
PK IMM Stikes muhammadiyah lamongan yaitu siti masidah. Dari sisnilah kemudian
regenerasi berjalan. Akhirnya pada tahun 2011. PC IMM lamongan yang saat itu
diketuai oleh anag nafi’uzzaki mengutus kakanda ahcmad rusli yang pada saat itu
baru menjadi mahasiswa baru di unisda jurusan ilmu politik Di FISIP untuk
mengumpulkan mahasiswa baru yang lulusan muhammadiyah untuk diajak masuk IMM.
Kemudian bekerjasama dengan lulusan DAD yang masi kuliah di unisda pertemuan
itu dilaksanakan di PCM brondong pada saat ada acra LID PC IMM LAMONGAN
kemudian menunjuk Masrul Muhajir menjadi ketua umum untuk menjalankan roda
kepemimipinan depan. Dan kemudian langsung
menindak lanjuti hasil pemilihan dadkan tersebut dengan susunan pengurus
Masrul muhajir (ketua umum) M.nur ali zulfikar (sekertaris) Asti rafika
(bendhara umum) eko nugroho (Kabid sosek) achmad rusli( kabid keilmuan) Ainul
agustian (Kabid Asbo) dan masi banyak lagi pengurus yang lain.
Dalam masa priode masrul muhajir ini IMM
Unisda mulai mampu membuat kegiatan terbukti denga kekompakan imawan dan
imawati pada saat itu meskipun kegiatannya tidak banyak akan tetapi dengan
sedikit kegiatan tersebut estafet organisasi berjalan hingga masa masrul
muhajir selesai kemudian mengadakan Muskom III priode 2012-2013 dengan hasi
M.Nur ali Zul fiakiar( ketua Umum) ilyasa hadi (sekertaris Umum) sri wahyuni
(bendhara Umum) tri stiawati (bendhara 1) acmad rusli (kabi keilmuan) eko nugroho
(kabid Kader) yusron rokhim ( kabid Hikma) IMM pada saat itu mulai berani
Nampak kepermukaan kampus dengan metode pendekatan dengan ormek dan ormawa yang
ada di kampus sehinnga mempunyai jaringan yang lumayan banyak karena keberadaan
IMM mulai di akui oleh kalangan mahasiswa yang kulia Dan menjadi pioner bagi
IMM LAMONGAN. Setelah masa priode M.Nur Ali zulfikar habis dan kemudian
mengadakan Musycom IV yang menghasilkan Susunan pengurus priode 2013-2014
